Menggapai Mimpi Kedua

Surat Terbuka Untuk Bapak Menteri Pendidikan Nasional

Posted on: Juni 24, 2008

Selesai sudah hajatan besar Diknas tahun pelajaran ini. Ujian Sekolah dari tingkat SD sampai SMU telah dilaksanakan. Walau banyak yang mengkritik namun sepertinya Diknas tak bergeming meneruskan hajatan tersebut.

Bapak mentri, surat ini saya tulis sebagai curahan hati sebagai seorang guru yang melihat anak didik dalam menghadapi Ujian Nasional. Entah saya tidak bisa melukiskan perasaan saat melihat tingkat kelulusan siswa, saya tidak memperhatikan dan memang tidak akan melihat sebagai sebuah angka, namun saya melihat sebagai sebuah proses. Bapak mentri, saya juga tidak tahu bagaimana perasaan bapak ketika melihat tontonan seputar UN. Tapi cobalah kita satukan rasa untuk bisa memahami kondisi ini. Bayangkan kalau salah satu siswa yang mengikuti UN dan ternyata mereka TIDAK LULUS adalah PUTRA/PUTRI kita. Bagaimana perasaan Bapak? Yang kedua mari kita bayangkan bagaimana perasaan mereka, yang tidak lulus.

Telah banyak komentar yang tidak menyetujui UN dan ada banyak alasan bagi mereka yang tidak menyetujuinya. Dan saya sayin bapak telah mempunyai puluhan alasan untuk mementahkan mereka. Dalam surat ini, saya tidak mempermasalahkan perdebapan atau diskusi ini.

Yang ingin saya kemukanaan adalah, Bapak, tolong lihat air mata yang melelah karena ketidaklulusan siswa, lihatlah mata mereka yang menampakkan segala kesedihan, kekecewaan dan keputusasaan serta rasa malu. Lihat dan pandanglah mereka dengan hati nurani Bapak menteri!

Bapak menteri, luka itu akan lama mengendap dalam hati mereka. Mereka akan memiliki perasaan yang akan MERAMPAS potensi dan bakat mereka yang telah sempat akan berkembang. Perasaaan sakit itu akan menyertai mereka dan merampas kebahagiaan mereka.

Bapak menteri, seharusnya hari-hari mereka adalah hari keceriaan menyongsong masa depan yang cerah. Namun harapan ini telah terengut oleh dua kata : TIDAK LULUS!

Hati saya menangis melihat anak-anak saya menangisi ketidaklulusannnya, entah hati Bapak menteri. Nurani saya terkoyak melihat mereka meratapi ‘kegagalan’ yang tidak mereka inginkan tapi harus mereka jalani karena keterpaksaan aturan.

Semoga Bapak mengkomentari dengan hati nurani surat saya ini. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bersama Buah Hati

Qoniah Zaina MILLADUNKA

Kumpulan Tulisanku

PROGRAM UTAMA

Meninggal Dengan Karya. Sebuah program yang akan membantu Anda untuk bisa menghasilkan satu karya yang bermanfaat untuk orang lain. Bersama, kita hasilkan sebuah karya untuk bekal akherat. Jika detik ini Anda dipangil Allah. Kemudian ditanya : Karya Apa Yang Pernah Kamu Buat Untuk Orang Lain? Bisakah Anda menjawabnya .. Gabung bersama Program ini, Anda akan bisa menghasilkan sebuah karya hebat Anda yang bisa Anda jadikan jawaban pertanyaan di atas kelak di AKHERAT. Insya Allah. GRATIS wallpaper Program ini. Selain dalam bentuk ebook, kami berikan program ini dalam bentuk WALLPAPER untuk PC Anda. Buruan!!
%d blogger menyukai ini: